滚滚长江东逝水,浪花淘尽英雄。
(gun gun chang jiang dong shi shui, lang hua tao jing ying xiong)
是非成败转头空,青山依旧在,几度夕阳红。
(shi fei cheng bai zhuan tou kong, qing shan yi jiu zai, ji du xi yang hong)
白发渔樵江渚上,惯看秋月春风。
(bai fa yu qiao jiang zhu shang, guan kan qiu yue cun feng)
一壶浊酒喜相逢,古今多少事,都付笑谈中。
(yi hu zhuo jiu xi xiang feng, gu jin duo shao shi, dou fu xiao tan zhong)
--------------------
Yang di atas itu adalah puisi yang pertama kali gua dengar dari salah satu acara siaran radio Singapura (95.8 FM yang dipancarluaskan melalui gelombang SW).
Waktu itu sepertinya gua masih SMP , atau sudah SMA ya? Lupa. Sekali dengar langsung tak terhapuskan dari ingatan.
Beberapa waktu lalu, puisi ini tiba-tiba melintas begitu saja dalam otak gua hingga iseng-iseng gua googling, akhirnya ketemu juga dan baru ketahuan kalau puisi ini ternyata puisi pembuka dalam cerita Legenda Tiga Kerajaan (Sam Kok), sayang sekali bahwa dalam novel Samkok terbitan PT. Bhuana Ilmu Populer sama sekali tidak kelihatan adanya puisi ini di halaman awalnya, tapi berhubung gua memang belum sempat baca, tidak tahu juga apakah puisi ini nantinya akan ada di halaman/bab/jilid berikutnya.
Puisi ini kata-katanya sederhana tapi sangat dalam, pemahamannya akan berubah seiring waktu, saat membaca tiap bait puisi, yang ada di otak gua antara dulu dan sekarang terasa sekali bedanya.
Biar tidak terlanjur lebih jauh beloknya, dengan memberanikan diri sekalian saja gua coba terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mumpung sedang iseng.
Kira-kira begini:
Gemuruh arus sungai Yangtze mengalir sampai laut timur,
Manusia agung budiman timbul hilang bagai buih lautan.
Baik buruk berhasil dan gagal, tak lama menjadi kekosongan jua,
Gunung hijau masih berdiri dan mentari senja tak henti berputar.
Nelayan dan pencari kayu uzur beruban di tepian sungai,
Kenyang oleh tiupan angin musim semi dan rembulan musim gugur.
Sepoci arak keruh dan semarak pertemuan setelah perpisahan lama,
Seberapa banyak peristiwa masa silam, tenggelam dalam gelak cerita.
Begitulah, mungkin ada yang keliru dalam terjemahan gua, tapi pada intinya makna puisi ini adalah tentang hidup yang sifatnya hanya sementara, tertawakanlah dunia selagi nyawa masih sisa.
